Welcom To My Blog

Minggu, 14 November 2010

Nama : Arum Dwi Wahyuni
Stambuk      : A1D107016
Mata Kuliah : Praktek Jurnalistik

FESTIVAL  DRAMA PELAJAR SULTRA

        Festival drama pelajar se-SULTRA yang diselenggarakan  pada tanggal 26- 27 Oktober 2010 di Taman Budaya kota Kendari yang dikuti oleh pelajar SMP- SMA se-Sulawesi Tenggara. Pementasan drama yang berlangsung selama dua hari ini merupakan ajang yang dilaksanakan dalam waktu setahun sekali. Selain melestarikan kesusastraan, dalam hal ini siswa-siswi juga bisa menyalurkan bakat mereka untuk beracting. Dari setiap sekolah yang mengikuti ajang ini menghadirkan bermacam-macam karakter pementasan, mulai dari drama yang bertemakan kebudayaan dan ada pula yang membawakan drama bertemakan realita zaman sekarang. Nur Wahyu Atika salah seorang peserta  memberikan sedikit keterangan tentang festival tersebut.

Siapakah yang membimbing serta melatih kalian dalam rangka diadakannya festival ini?

Nur Wahyu Atika siswa selaku peserta lomba yang berasal dari SMP Negeri 3 Lambuya mengatakan “dalam latihan ini kami dipimpin  langsung oleh sutradara kami yang tidak lain adalah bapak guru bahasa Indonesia di sekolah kami”.

Apakah kalian tidak merasa kesusahan untuk menghafal naskah dan actingnya?

Kami tidak merasa canggung beracting karena sudah sering kali pentas dalam kegiatan-kegiatan disekolah”. Tentunya hal ini merupakan salah satu kegiatan yang baik untuk menyalurkan potensi sekaligus pengaplikasian dalam mata pelajaran mereka khususnya Bahasa Indonesia. Nur Wahyu Atika juga mengatakan “dalam rangka mengikuti festival ini kami diseleksi terlebih dahulu dan naskah kami juga ditulis oleh bapak Mardiman guru Bahasa Indonesia kami sendiri”.

 Berapa lama kalian latihan  menjelang festival ini serta apa harapan kalian?

Dalam latihan untuk mengikuti festival ini kami menghabiskan waktu kurang lebih dalam waktu satu bulan. Karena ini merupakan festival pementasan se-Sulawesi Tenggara, jadi kami mempersiapkannya dari jauh hari sebelum lomba dilaksanakan. Dan latihannya juga kami lakukan di sekolah. Dari empat hari sebelum hari H, kami latihan dengan sungguh-sungguh karena kami sangat mengharapkan untuk bisa tampil maksimal dan tentunya bisa menjadi pemenangnya.

         Festival ini menghadirkan dewan juri dari tokoh sastrawan yang sudah tidak asing lagi yaitu Saifudin Gani, Ahid Hidayat, dan ka’ Stone. Hal ini berarti siapapun yang menjadi pemenangnya  ditentukan oleh dewan juri tersebut. Selanjutnya, selama pementasan ini berlangsung, rasa semangat tidak hanya terlihat pada para peserta saja tetapi penonton juga terlihat begitu antusias akan adanya pementasan ini. 

        Di tengah meriahnya pementasan itu, ternyata ada hal yang kurang mendapat perhatian, kondisi penonton yang kepanasan terlihat dari kibasan-kibasan baju serta sobekan beberapa lembar kertas yang dikipaskan ke muka, ditambah lagi dengan pertukaran udara yang tidak lancar membuat penonton semakin tidak nyaman. Namun, keganjalan-keganjalan tersebut hilang karena meriahnya festival ini. Ternyata acting dari para peserta membuat penonton larut dalam suasana.

        Pengumuman atas festival ini dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 27 Oktober 2010 tepatnya yaitu malam hari setelah berakhirnya pementasan. Yang menjadi pemenang pertama dalam festival ini adalah SMP Negeri 3 Lambuya, ke dua berasal dari SMP 2 Bau-bau, dan pemenang yang ke tiga adalah dari SMA Negeri 1 Kendari.
        Drama yang menjuarai dari  festival  ini (SMP Negeri 3 Lambuya) menghadirkann drama yang berjudul STEL (selera tinggi ekonomi lemah), berdasarkan penampilannya, drama ini menggambarkan tentang kehidupan seorang pelajar SMA yang berasal dari keluarga sederhana namun memiliki selera yang sangat tinggi. Kalau menyelami penampilan drama ini sepertinya sesuai dengan realita yang ada saat ini. Selanjutnya, dari segi penguasaan panggung memang mereka terlihat sangat lues dan tidak merasa canggung sama sekali. Kemudian, dengan diadakannya lomba pementasan drama ini selain menjadi salah satu alternatif untuk mengetahui sampai di mana kemampuan siswa-siswi  menyalurkan bakat mereka untuk berekspresi di bidang seni, hal ini juga memberikan efek yang positif baik bagi kehidupan maupun kebudayaan.
Tugas Praktik Jurnal (Jurnalistik Reportasi)
Nama        : Haryadi
Stambuk    : A1D1 06 130

DRAMA “KEAJAIBAN BERKULIT DUA”

       Selasa 26 Oktober 2010, tepatnya sekitar pukul 16.00 lewat. Suasana sesak dan udara pengap sudah mulai terasa di ruang pertujukan drama Taman Budaya Kendari. Panas sore itu menambah volume sesak dalam ruangan yang sengaja dibuat tertutup. Pada hal, penonton yang datang hanya memenuhi hampir setengah ruang pagelaran drama itu tapi tetap saja udara begitu panas. Selasa itu adalah pagelaran perdana pada Festival Drama Pelajar se-Sultra. Penonton yang sebagian besar adalah warga intelektual seperti pelajar, Mahasiswa, guru dan dosen menjadi penonton dominan pada Festifal ini. Tidak ketinggalan pula masyarakat umum yang peduli dengan seni berdatangan untuk meramaikan Festival yang diadakan setahun sekali ini. Kantor Bahasa Sultra bekerja sama dengan Taman Budaya Kendari menjadi promotor dilaksanakannya festival ini. Festifal ini memang sengaja digelar, selain dalam  rangka menyambut Bulan Bahasa yang diperingati sehari sebelum hari Sumpah Pemuda yaitu tiap tanggal 27 Oktober, juga untuk menggali potensi-potensi yang dimiliki siswa dan utamanya mengangkat cerita daerah. Di festival ini, dihadiri pimpinan Kantor Bahasa Sultra, Prof. Hana. Selain itu, ada juga terlihat pecinta seni Sultra di gedung tempat berlangsungnya acara itu. Untuk penilaian tampilan diserahkan kepada tiga orang professional sastra yaitu Syaifuddin Gani, Ahid Hidayat, dan Papi yang kemampuannya dibidang sastra tidah usah diragukan lagi setiap. Saat itu mereka diberi tanggung jawab menjadi tim juri diFestival Drama Pelajar tersebut. Tak ketinggalan sastrawan yang beberapa waktu lalu meluncurkan buku antologi puisi “Buton, Ibu dan Sekantong luka”- Irianto Ibrahim- hadir ditempat itu dan berdiri dibelakang kerumunan penonton.
       Kesempatan untuk penanpilan perdana di isi oleh kelompok drama yang berasal dari SMP Negeri 3 Bau-bau dengan drama yang berjudul “Keajaiban Si kulit  Dua”. Suasana kerajaan menjadi pilihan kelompok drama ini. Sedangkan panggungnya menggunakan gambar benteng kerajaan Buton,  lebih tepatnya tentang wilayah Buton Utara. Drama ini merupakan saduran dari cerita rakyat Buton Utara. Belasan siswa SMP ini ada yang berperan sebagai si kulit dua, raja, permaisuri, putri, beberapa orang dayang dan prajurit, serta pemeran figuran lainnya.
       Drama  “Keajaiban Si Kulit  Dua”  mengisahkan dulu kala di Kerajaan Buton Utara hiduplah siluman yang disebut Manusia  Siput. Tindak kejahatan yang dilakukan  Manusia Siput ini sangat meresahkan masyarakat kerajaan. Untuk menumpas kejahatan manusia siput, sang Raja pun mengadakan saembara yang ditujukan kepada semua pendekar di tempat itu. Siapa pun yang berhasil mengalahkan Manusia Siput akan dinikahkan dengan putrinya. Para pendekar pun berlomba-lomba ke tempat  Manusia Siput, termasuk si Kulit Dua yang secara fisik buruk rupa. Satu per satu para pendekar tumbang ditangan  Manusia Siput. Tinggallah si Kulit Dua yang tersisa. Pertarungan antar keduanya pun berlangsung yang akhirnya dimenangkan oleh si Kulit  Dua. Sebagai bukti bahwa si Kulit Dua telah mengalahkan Manusia Siput maka dibawalah lendir Manusia Siput ke hadapan Raja. Sang Raja dan Permaisuri sangat kaget ketika yang memenangka saembara tersebut adalah orang buruk rupa. Sang raja cemas  kalau nanti putrinya tidak mau  menikah dengan si Kulit Dua. Namun, dengan ikhlas mengabdi kepada kedua orang tuanya si Putri akhirnya mau menikahi si Kulit Dua. Saat prosesi kedua mempelai akan diperhadapkan, sang Raja, Permaisuri dan Putri terkejut ketika sang pemenang saembara telah berubah menjadi pria yang tampan. Di akhir cerita si Kulit Dua dan putri menikah dihadapan Raja.
       Ketika pementasa usai, Tiwi yang merupakan pemeran permaisuri dalam drama ini mengungkapkan keoptimis dengan penampilan mereka. Setelah bebincang-bincang dengan para pemain, ternyata hampir semua menyatakan bahwa pementasa ini adalah pengalaman perdana bagi mereka. Meskipun tergolong pemula dalam berlakon. Namun, apa yang mereka suguhkan pada sore itu sudah cukup membanggakan. Hal ini tiada lain adalah berkat kerja keras dan latihan hampir setiap hari selama sebulan penuh. Pak Wilies yang merupakan penulis naskah sekaligus sutradara drama ini, mengaku cukup puas dengan penampilan anak-anak didiknya. Meskipun beliau juga mengakui masih banyak terjadi hal yang kurang dalam drama garapannya. Pak Wilies begitu antusias karena drama berjudul “Keajaiban Si Kulit  Dua” ini baru pertama kalinya pentaskan. Beliaua juga akan melakukan sebuah penelitian yang juga berhubungan dengan kearifan lokal di salah satu daerah Sulawesi Tenggara. Pesan terakhir dari beliau untuk generasi muda adalah lestaeikan kearifan lokal di daerah. 

FESTIVAL DRAMA PELAJAR 2010


Selasa,26 Oktober 2010 lalu bertempat di Taman Budaya Kendari diadakan Festifal Drama Pelajar Sultra 2010. Acara tersebut dimulai tepat pukul 16.00 WITA. Sya sengaja mampir di Taman Budaya tersebut untuk meliput jalannya acara tersebut.  Kjetika memasuku gedung pertunjukan drama tersebut, rasa gerah tiuba-tiba melanda saya. Mungkin karena ruangan tersebut sangat tertutup dan hampir tidak ada cela untuk udara berganti, apalagi ada banyak orang yang ingin menonton pertunjukan tersebut sehingga udara dirasakan sangatlah panas. Banyak diantara penonton mengipas-ngipas tubuh mereka agar tidak gerah selama menonton pertunjukan drama berlangsung .
    Penampilan pertama dalam Festifal Drama Pelajar Sultra 2010 ini adalah penampilan  perwakilan dari pelajar siswa SMPN 4 Bau- Bau dengan judul drama Keajaiban Si Berkulit Dua  . Drama tersebut diambil dari cerita rakyat masyarakat Buton Utara Kabupaten Buton. dRama ini bercerita tentang siluman siput raksasa yang sangat meresahkan masyarakat , dan barang siapa yang dapat membunuh siluman siput tersebut dan dapat mengambil lendirnya, ia akan dinikahkan dengan putri sang raja .
Berkat kerja keras dan usaha  yang giat berlatih kurang lebih satu bulan , para pemeran drama ini berhasil menampilkan drama yang mereka tampilkan dalam acara tersebut dengan maksimal dan cukup baik. Dengan pemain berjumlah 12 orang, mereka terlihat sangat kompak dan saling membantu antara satu sama lain dalam mencari karakter mereka dalam cerita tersebut. Mereka terlihat sangat mendalami peran, walaupun ada sedikit kesalahan dalam penataan latar, namun tidak menjadi hambatan yang berarti.
Setelah penampiilan mereka selesai , para pemain terlihat sangat puas dan bahagia atas penampilan mereka tadi . Salah satu pemeran berkulit dua dalam drama tersebut mengatakan “ Saya sangat senang karena dapat belajar akting dan membanggakan orang tua saya dengan tampil di kendari ini” . “Dengan menam[pilkan cerita rakyat , kami dapat melestarikan cerita tersebut dan kami bangga karena cerita ini tidak pernah dipentaskan sebelumnya. Kamilah yang pertama mementaskannya”  ujarnya kembali bersama teman-temannya. Sepanjang mewawancarai para pemeran drama tersebut selalu menjawab dengan senyuman dan kadang terlihat bingung bila mereka tak mengetahui maksud pertnyaan kami. Mereka kadang bertanya ketemannya yang lain.
Sementara itu , guru bahasa Indonesia sekaligus sutradara dalam drama “ Keajaiban Berkulit Dua” ini yaitu  Drs. Abdul Weas, M.Pd. menjelaskan pula bahwa pertunjukan mereka tersebut dapatterlaksana karena hasil kerja sama antara siswa dan termasuk dukungan dari kepala sekolah , dinas pendidikan, pemerintah Kota Bau-Bau , dan teman-teman guru baik guru SMPN 3 Bau-Bau , SMAN 2Bau-Bau , maupun SMPN 4 Bau-Bau itu sendiri.
Dalam membina siswa dalam drama, para guru ini sengaja mendatangkan ahli teater dari Australia untuk melatih siswanya dalam olah vokal maupun gerakan-gerakan yang dilakukan dalam memeainkan seni peran . Pak Weas begitu panggilannya juga mengaku sangat senang dan puas terhadap penampilan anak didiknya di panggung. Ia juga mengaku dalam pelatihan drama, ia selalu kreatif dalam membangun pemikiran siswa agar tidak canggung di panggung dan tetap percaya diri.
Di akhir percakapan , Pak Weas juga mengatakan bangga akan budaya-budaya Indonesia yang beraneka ragam di antaranya budaya yang ada di pulau Buton. Kebanggaan tersebut lalau ia tuangkan dalam pergelaran drama tersebut agar kebudayaan tersebut tidak punah dimakan usia. “Saya juga mau menyukseskan program pemerintah yang diantaranya mengembangkan nilai budaya dan karakter bangsa”  ujarnya.
Karena hari juga sudah gelap dan tak ada lagi pertanyaan yang kami ajukan kepada para peserta drama dan sutradaranya,  Pak Weas pun pamit sambil mengucapkan kata terimah kasih dengan senyuman pula. Kamipun membalasnya dengan senyuman dan tak lupa mengucap salam . Kamipun lalu pulang dengan membawa kenangan dan cerita dan ide yang berbeda-beda di kepala kami.

ASTINANG LA UDIN