Welcom To My Blog

Minggu, 14 November 2010

Tugas Praktik Jurnal (Jurnalistik Reportasi)
Nama        : Haryadi
Stambuk    : A1D1 06 130

DRAMA “KEAJAIBAN BERKULIT DUA”

       Selasa 26 Oktober 2010, tepatnya sekitar pukul 16.00 lewat. Suasana sesak dan udara pengap sudah mulai terasa di ruang pertujukan drama Taman Budaya Kendari. Panas sore itu menambah volume sesak dalam ruangan yang sengaja dibuat tertutup. Pada hal, penonton yang datang hanya memenuhi hampir setengah ruang pagelaran drama itu tapi tetap saja udara begitu panas. Selasa itu adalah pagelaran perdana pada Festival Drama Pelajar se-Sultra. Penonton yang sebagian besar adalah warga intelektual seperti pelajar, Mahasiswa, guru dan dosen menjadi penonton dominan pada Festifal ini. Tidak ketinggalan pula masyarakat umum yang peduli dengan seni berdatangan untuk meramaikan Festival yang diadakan setahun sekali ini. Kantor Bahasa Sultra bekerja sama dengan Taman Budaya Kendari menjadi promotor dilaksanakannya festival ini. Festifal ini memang sengaja digelar, selain dalam  rangka menyambut Bulan Bahasa yang diperingati sehari sebelum hari Sumpah Pemuda yaitu tiap tanggal 27 Oktober, juga untuk menggali potensi-potensi yang dimiliki siswa dan utamanya mengangkat cerita daerah. Di festival ini, dihadiri pimpinan Kantor Bahasa Sultra, Prof. Hana. Selain itu, ada juga terlihat pecinta seni Sultra di gedung tempat berlangsungnya acara itu. Untuk penilaian tampilan diserahkan kepada tiga orang professional sastra yaitu Syaifuddin Gani, Ahid Hidayat, dan Papi yang kemampuannya dibidang sastra tidah usah diragukan lagi setiap. Saat itu mereka diberi tanggung jawab menjadi tim juri diFestival Drama Pelajar tersebut. Tak ketinggalan sastrawan yang beberapa waktu lalu meluncurkan buku antologi puisi “Buton, Ibu dan Sekantong luka”- Irianto Ibrahim- hadir ditempat itu dan berdiri dibelakang kerumunan penonton.
       Kesempatan untuk penanpilan perdana di isi oleh kelompok drama yang berasal dari SMP Negeri 3 Bau-bau dengan drama yang berjudul “Keajaiban Si kulit  Dua”. Suasana kerajaan menjadi pilihan kelompok drama ini. Sedangkan panggungnya menggunakan gambar benteng kerajaan Buton,  lebih tepatnya tentang wilayah Buton Utara. Drama ini merupakan saduran dari cerita rakyat Buton Utara. Belasan siswa SMP ini ada yang berperan sebagai si kulit dua, raja, permaisuri, putri, beberapa orang dayang dan prajurit, serta pemeran figuran lainnya.
       Drama  “Keajaiban Si Kulit  Dua”  mengisahkan dulu kala di Kerajaan Buton Utara hiduplah siluman yang disebut Manusia  Siput. Tindak kejahatan yang dilakukan  Manusia Siput ini sangat meresahkan masyarakat kerajaan. Untuk menumpas kejahatan manusia siput, sang Raja pun mengadakan saembara yang ditujukan kepada semua pendekar di tempat itu. Siapa pun yang berhasil mengalahkan Manusia Siput akan dinikahkan dengan putrinya. Para pendekar pun berlomba-lomba ke tempat  Manusia Siput, termasuk si Kulit Dua yang secara fisik buruk rupa. Satu per satu para pendekar tumbang ditangan  Manusia Siput. Tinggallah si Kulit Dua yang tersisa. Pertarungan antar keduanya pun berlangsung yang akhirnya dimenangkan oleh si Kulit  Dua. Sebagai bukti bahwa si Kulit Dua telah mengalahkan Manusia Siput maka dibawalah lendir Manusia Siput ke hadapan Raja. Sang Raja dan Permaisuri sangat kaget ketika yang memenangka saembara tersebut adalah orang buruk rupa. Sang raja cemas  kalau nanti putrinya tidak mau  menikah dengan si Kulit Dua. Namun, dengan ikhlas mengabdi kepada kedua orang tuanya si Putri akhirnya mau menikahi si Kulit Dua. Saat prosesi kedua mempelai akan diperhadapkan, sang Raja, Permaisuri dan Putri terkejut ketika sang pemenang saembara telah berubah menjadi pria yang tampan. Di akhir cerita si Kulit Dua dan putri menikah dihadapan Raja.
       Ketika pementasa usai, Tiwi yang merupakan pemeran permaisuri dalam drama ini mengungkapkan keoptimis dengan penampilan mereka. Setelah bebincang-bincang dengan para pemain, ternyata hampir semua menyatakan bahwa pementasa ini adalah pengalaman perdana bagi mereka. Meskipun tergolong pemula dalam berlakon. Namun, apa yang mereka suguhkan pada sore itu sudah cukup membanggakan. Hal ini tiada lain adalah berkat kerja keras dan latihan hampir setiap hari selama sebulan penuh. Pak Wilies yang merupakan penulis naskah sekaligus sutradara drama ini, mengaku cukup puas dengan penampilan anak-anak didiknya. Meskipun beliau juga mengakui masih banyak terjadi hal yang kurang dalam drama garapannya. Pak Wilies begitu antusias karena drama berjudul “Keajaiban Si Kulit  Dua” ini baru pertama kalinya pentaskan. Beliaua juga akan melakukan sebuah penelitian yang juga berhubungan dengan kearifan lokal di salah satu daerah Sulawesi Tenggara. Pesan terakhir dari beliau untuk generasi muda adalah lestaeikan kearifan lokal di daerah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar