| Ulah sekelompok orang yang kerapkali terlibat aksi anarkis di sekitar kampus Unhalu, ternyata membuat cerita duka bagi warga yang tinggal di kawasan tersebut. Tak hanya trauma dengan kekacauan, pedagang dan warga sekitar merasa resah dan takut jika hal yang serupa terulang lagi. Aktivitas warga yang berdomisili di sekitar kampus baru Unhalu berkurang dari hari-hari biasa. Jika sebelumnya masih ada penduduk yang lalu lalang di sekitar kampus pukul 20.00 wita ke atas, atau mahasiswa yang berseliweran mengurusi tugas, sejak beberapa hari tekahir, pasca aksi anarkis, kondisi tersebut sudah tidak tampak lagi. Jelang Magrib, warga lebih memilih untuk berdiam diri di dalam rumah. Jika ada keperluan mendesak, kebanyakan dari mereka memilih untuk menyelesaikan lebih awal, atau menunda hingga besok. Hal itu disebabkan karena rasa takut akan terulangnya peristiwa berdarah, yang sempat menggegerkan warga sekitar kampus Unhalu beberapa hari tekahir. Salah seorang warga, mengaku bernama Ira yang tinggal di jalan Perintis, mengatakan sangat resah dengan adanya bentrokan di lingkup kampus. Apalagi isu yang berkembang sudah menyangkut SARA. Hal tersebut kata alumni Unhalu itu, bisa saja menimbulkan konflik berkepanjangan dan kerusuhan yang lebih besar lagi. ’’Sebenarnya kami yang tinggal di sekitar kampus sudah terbiasa menyaksikan aksi-aksi sperti itu, namun saat ini tampaknya sudah lebih parah dari biasa. Sebab sudah ada bom molotov yang diledakkan. Yang kami khawatirkan jangan sampai senjata-senjata yang digunakan perusuh salah sasaran dan membuat warga yang tidak bersalah ikut menderita,’’ ungkapnya. Kengerian yang dirasakan Ira, tidak berbeda dengan apa yang diungkapkan Ham. Pemilik sebuah counter pulsa di sekitar kampus Unhalu itu, mengaku sangat trauma dengan kerusuhan yang terjadi di sekitar kampus bumi tridharma akhir-akhir ini. Terlebih lagi, setelah aksi perampokan yang menimpanya pada kerusuhan di momen piala dunia beberapa waktu lalu. Kios yang baru saja dia dirikan digasak orang tak dikenal. Rokok dan barang dagangan lainnya bernilai jutaan rupiah dibawa kabur maling. Para pencuripun sempat menutup rapat kembali jendela yang bobol, untuk mengelabui si empunya rumah. Merasa tak akan mungkin terungkap, Ham yang juga karyawan di sebuah perusahaan swasta itu mengaku pasrah, dan tidak melaporkan hal itu ke pihak berwajib. Padahal, sejak peristiwa itu, bukan hanya kerugian materil yang dia dan keluarganya rasakan, tapi secara psikologi sangat berpengaruh, terutama untuk istri dan anaknya. | Ketakutan Ham kembali terjadi. Beberapa malam lalu, ia mendapatkan sebuah busur menancap di salah satu bidang tanah di belakang rumahnya. Meski tidak melukai siapa-siapa, namun senjata itu kembali menimbulkan keresahan bagi diri dan keluarganya. Apalagi, hingga saat ini baru satu orang pelaku kerusuhan yang ditangkap. Tentunya kata Ham, hal itu mengulang trauma yang dirasakan pasca kerusuhan beberapa bulan lalu. Kerugian yang dialami Ham tak hanya sebatas itu. Kerusuhan yang terjadi beberapa hari terakhir membuatnya lebih waspada. Kios sekaligus counter pulsa yang yang selama ini mnejadi salah satu sumber kehidupannya, terpaksa ditutup lebih awal dari biasanya, untuk megantisipasi aksi teror yang datang sewaktu-waktu. ’’Sebagai warga kami berharap, kerusuhan kemarin bisa segera berakhir. Sebab, apa yang terjadi telah membuat warga resah dan pedagang seperti kami rugi. Bagaimana kami bisa memodali usaha, kalau modal kami digasak maling. Mudah-mudahan polisi bisa lebih sigap menangani kasus ini, agar tidak ada lagi korban yang berjatuhan,’’ harapnya.. |
Sabtu, 09 Oktober 2010
Resah, Di Kampus Unhalu
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar